Iklan

Apakah Tradisi Ziarah Wali Menjadi Amalan Yang Utama atau Menjadi Amal Pemborosan?

Sumber: WAG

Oleh: Ahmad Munir

Pada sebagian orang atau kalangan tertentu, kritik pada Ziarah Makam Wali Songo dianggap sebagai tradisi yang "tidak berfaedah" atau "tidak bermanfaat". Tuduhan dan lontaran kalimat semacam ini, tentu menyinggung sebagian besar umat Islam Indonesia, yang menjadi ziarah sebagai bagian dari perjalan religiusitasnya, atau menjadi bagian dari amal yang ditardisikan. 

Perbadingannya tentu sederhana, jika mereka yang melontarkan tuduhan itu membolehkan jalan-jalan ke mall, atau jalan-jalan ke tempat wisata, sementara mayoritas umat Islam, khususnya kalangan NU, mentradisikan ziarah wali, sebagai bagian dari jalan-jalan (liburan/healing), namun tetap diisi dengan zikir dan amalan-amalan sholeh. Jadi yang berbeda pada substansinya, umat Islam mayoritas di Indonesia paham, bahwa Zikir dan Doa menjadi benteng keselamatan yang sesungguhnya dari berbagai kerusakan-kerusakan yang muncul. 

Alasan yang menjadi bernilai utama, bagi ziarah kuburnya warga NU adalah mereka menekankan pada jalan-jalan yang tetap mengandung unsur religiusitas, tetap pada posisi berzikir dan berdoa, sementara sebagian yang lain-lain sama jalan-jalan, tetapi lebih pada unsur penyegaran jiwa, dengan menikmati pemandangan indah, makanan yang enak di lokasi wisata, dan lain sebagainya, yang tidak semua orang mampu mencapai posisi tersebut. Jadi bijaklah pilihan warga NU, berwisata mengunjungi makam-makam orang sholeh yang berjasa pada penyebaran agama Islam di berbagai daerah.


Post a Comment

0 Comments